Rasanya kurang puas hari ini. Kurang bisa ikut merayakan
kemeriahan hari peringatan kemerdekaan negara sendiri.
Tidak sempat pakai batik atau baju merah putih, tidak sempat
makan makanan khas Indonesia, tidak sempat menonton upacara bendera secara
utuh, seperti tahun-tahun sebelumnya..
Baru kali ini Indonesia terasa
begitu jauh.
Tapi banyak momen-momen kecil yang kutemui hari itu, membuat
aku sangat bersyukur.
Seperti waktu aku bangun di pagi hari, dan doa pertama yang
aku panjatkan adalah ucapan syukur untuk tujuh puluh dua tahun negeriku.
Seperti waktu sempat, dari dalam tram, mengintip teman-teman
yang berkesempatan mengibarkan bendera merah-putih di negara orang. Di tengah
lapangan, ditonton oleh begitu banyak orang dari berbagai belahan dunia,
puluhan orang Indonesia berkumpul, dan 3 bendera merah putih dikibarkan oleh beberapa
pelajar berseragam putih.
Seperti waktu melihat pakaian-pakaian adat yang ramai-ramai
dipakai di Istana.
Seperti waktu menyadari bahwa kali ini, perayaan di Istana
bisa dihadiri oleh hampir semua mantan presiden dan wakil presiden,
suami-isteri.
Seperti waktu menyimak berbagai post di Instagram dan
Facebook, berisikan semangat perjuangan dan harapan-harapan untuk Indonesia.
Indonesia
bukan lagi masalah jarak atau tempat.
Indonesia
adalah hati.
Doaku sendiri:
Semoga bangsa yang besar ini semakin diberkati, dan bisa
menjadi berkat.
Semakin kreatif, progresif, tanpa kehilangan kerendah-hatian
dan kesantunannya.
Semakin kaya dalam hasil alam, kultur budaya, dan sumber
daya manusia.
Semakin bijak dan berakhlak, semakin semangat belajar dan
membaca, semakin tidak malu untuk berinovasi dan bersuara.
Indonesia.
Di sana
tempat lahir beta
Dibuai,
dibesarkan bunda
Tempat
berlindung di hari tua
Sampai
akhir menutup mata.
(21/08/17)
-*^^*-
No comments:
Post a Comment