Seperti biasa, Dee Lestari sukses membuatku senyum-senyum atau galau setelah membaca karyanya!
Dengan format yang mirip dengan Madre, FilKop dipenuhi cerita pendek dan prosa yang walaupun singkat, nancep dan berhasil menggambarkan sebuah situasi yang jauh lebih besar.
Favoritku -- justru bukan cerita Filosofi Kopi itu sendiri, walaupun cerita itu keren juga! :D
(Kopi Tiwus --> jadi penasaran akan aroma dan rasanya :) )
Aku super suka sama chapter Surat yang Tak Pernah Sampai. Bisa bikin nangis kalau disertai atmosfer yang tepat. Serius.
'Selagi Kau Lelap' juga jadi chapter yang berkesan. Sederhana, tapi emosinya tepat, ditambah permainan kata Dee yang selalu impressive.
Bila boleh 'dibandingkan' dengan cerpen Madre sebagai 2 cerita yang menjadi judul bukunya, aku lebih suka cerpen Madre. Entah kenapa. Sepertinya Filosofi Kopi agak terkesan 'terburu-buru', (atau mungkin memang lebih pendek?) dibanding Madre yang took its time to progress, dan memuat lebih banyak fun trivia.
Secara keseluruhan, FilKop menurutku lebih filosofis, sedangkan Madre lebih dipenuhi cerita. Keduanya wajib dibaca untuk pecinta karya Dee! :D
Nggak hanya cerita-cerita yang menyentuh, beberapa juga cheeky, membuat terkaget-kaget dan tertawa, tapi juga masih menjaga momentum menghasilkan simpati. Ada alasan kenapa Dee dipanggil 'Ibu Suri'.
Filosofi Kopi dibawakan kepadaku jauh-jauh dari Semarang oleh sebuah keluarga yang sedang berlibur di Melbourne :D THANKS A LOT :D
Sengaja disimpan sekitar 5 hari (karena masih ujian), dan jadi hadiah perayaan akhir exam week yang super special! :D
Dee,
I can't wait for IEP, dan semua karya yang akan mengikuti! ^^
Cheers!
-*^^*-
No comments:
Post a Comment